Berita

13 Mar 2025

Penulis : Folber Siallagan

Inilah Daftar Empat Laut Paling Dalam di Indonesia

Tidak semua isi lautan diketahui oleh manusia. Meski manusia yang dibantu dengan segala kecanggihan teknologi, tetap saja isi dasar laut masihenjadi misteri karena belum bisa dieksplorasi manusia.

Dengan kedalaman hingga ribuan meter tentunya akan menimbulkan tekanan air yang sangat tinggi. Hal inilah yang menjadi kendala dan keterbatasan manusia untuk mengeksplorasi isi dasar laut.
Di Indonesia sendiri ada sejumlah titik yang tercatat masuk dalam laut paling dalam.
Berikut adalah daftar laut paling dalam di Indonesia yang dihimpun dari berbagai Sumberg:
1. Laut Arafuru
Laut Arafuru berada antara pulau Papua mengarah ke Australia atau tepatnya di tenggara wilayah Indonesia.
Titik terdalam di laut tercatat 3.600 meter.
Laut Arafuru memiliki potensi sumber daya ikan yang cukup melimpah.

2. Laut Banda
Laut Banda berada diMaluku Tengah, Kepulauan Maluku. Laut Banda memiliki luas sekitar 470 ribu kilometer, dengan titik terdalam tercatat hingga 5 ribu meter dari permukaan. 

3. Laut Sulawesi
Laut Sulawesi terletak di sebelah barat Samudra Pasifik. Sebelah utara laut ini berbatasan dengan Kepulauan Sulu, Filipina. 
Laut Sulawesi memiliki luas permukaan mencapai 280 ribu kilometer persegi. Kedalaman laut ini mencapai 6200 meter. 

4. Laut Jawa
Titik terdalam Laut Jawa adalah Palung Jawa. Palung Jawa yang memiliki kedalaman sampai 7.450 meter, masuk jajaran titik terdalam laut di dunia. 
Palung Jawa berada di dekat Pulau Bawean yang selalu menjadi destinasi para turis Australia. Pulau Bawean juga menjadi salah satu favorit di wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur. 

Demikianlah informasi tentang empat laut terdalam di Indonesia. Semoga informasi  berguna sekaligu menjadi pengingat bahwa misteri di laut masih banyak yang belum terpecahkan. Sehingga kehati-hagian dan kewaspadaan saat beraktivitas di laut mutlak diperlukan demi keselamatan kita. (*)

Berita Lainnya

17 Feb 2026

Penulis : Folber Siallagan

Industri Galangan Kapal di Indonesia Terus Berkembang

Industri galangan kapal di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terus berkembang dari tahun ke tahun dan tidak hanya melayani pasar domestik, namun juga memproduksi kapal pesanan dari Eropa.

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono saat menghadiri dan menyerahkan secara simbolis kapal survei katamaran. Kapal itu merupakan buatan galangan Banyuwangi produksi PT Lundin Industry Invest yang dipesan PT Rejeki Abadi Lestari di Banyuwangi.

"Pemesanan kapal produksi lokal ini adalah bukti nyata bahwa industri perkapalan daerah telah memiliki standar kualitas yang kompetitif," kata Mujiono.

Menurut dia, capaian ini menunjukkan bahwa produk anak bangsa mampu bersaing di pasar global, baik dari sisi desain, teknologi, maupun ketahanan konstruksi.

"Ini membuktikan industri kapal dalam negeri memiliki daya saing tinggi, kami berharap capaian ini semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah maritim sekaligus mendukung visi kemaritiman Presiden Prabowo Subianto," ujarnya.

Direktur PT Lundin Industry Invests John Lundin menjelaskan kapal yang diserahkan merupakan kapal survei tipe Katamaran X38 generasi terbaru.

Ia menyampaikan proses pembuatannya memakan waktu sekitar enam bulan, mulai dari tahap desain, fabrikasi lambung, instalasi mesin hingga uji kelayakan laut (sea trial).

John Lundin memaparkan kapal tersebut memiliki panjang keseluruhan (length overall/LOA) 12,50 meter dan lebar 4,60 meter, dengan draft nominal 0,70 meter dan displacement sekitar 7.000 kilogram.
Kapal ini dirancang stabil saat beroperasi di perairan dangkal maupun terbuka, dan desain katamaran memberikan keunggulan pada stabilitas dan efisiensi bahan bakar dibandingkan lambung tunggal.

"Dari sisi daya jelajah, kapal dibekali kapasitas bahan bakar hingga 2.000 liter, memungkinkan operasional dalam durasi yang relatif panjang tanpa pengisian ulang," katanya.

Selain itu, lanjut Lundin, tersedia pula tangki air bersih berkapasitas 250 liter serta holding tank 200 liter untuk mendukung kebutuhan kru selama kegiatan survei berlangsung. Kapal ini juga dirancang untuk mengangkut hingga 12 orang penumpang atau kru.

"Kami telah membuat 20 kapal jenis Katamaran, tetapi tipe terbaru ini jauh lebih baik dari yang lain, dengan konsumsi bahan bakar dan performa yang lebih baik," pungkasnya. (*)
 

15 Feb 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Perdana Dibangun di NTB-NTT

Pemerintah Indonesia akan memanfaatkan arus laut untuk menghasilkan listrik dengan cara membangun Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL). Lokasi pertama yang akan dijadikan titik pembangkit adalah perairan laut di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, Indonesia merupakan negara kepulauan yang cangkupan lautnya sangat besar. Oleh karena itu potensi yang ada harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Berdasarkan paparan sebelumnya, lokasi pengembangan gelombang arus laut rencananya berada di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Masing-masing akan memiliki pasokan yakni 20 MW."

Ada laut, kita juga punya. Nah ini target di RUPTL mulai muncul tahun ini. Jadi mulai muncul nih baru pembangkit listrik tenaga arus laut. Jadi menggunakan arus laut untuk men-generate energi jadi listrik nantinya," ujar Eniya, Minggu (15/2/2026).

Selain arus laut, Eniya juga menyebutkan potensi yang besar dari panas bumi. Kemudian, ada juga pembangkit listrik tenaga surya yang memiliki potensi mencapai 3.600 GW. Potensi tersebut, kata Eniya merupakan peluang besar yang akan dimanfaatkan secara optimal.

"Karena kalau misalnya Jerman, cuma mention tentang surya, angin, paling sedikit hidro. Kalau Belanda, hidrolah, angin juga banyak. Tapi mereka nggak mention geothermal. Indonesia ada," katanya.

Diketahui, potensi pembangkit listrik tenaga arus laut di Indonesia sangat besar. Indonesia memiliki sekitar 17.000 pulau, sehingga terdapat banyak selat sempit yang berpotensi menghasilkan arus laut. Beberapa lokasi yang memiliki potensi besar antara lain Selat Larantuka, Selat Alas, dan Selat Flores.

Kecepatan arus laut di Indonesia bervariasi, tetapi beberapa lokasi memiliki kecepatan yang cukup tinggi, seperti Selat antara Pulau Taliabu dan Pulau Mangole di Kepulauan Sula, Maluku Utara, dengan kecepatan 5,0 m/detik.

Potensi daya yang dapat dihasilkan dari arus laut Indonesia diperkirakan mencapai 280 triliun watt-jam. Jika dimanfaatkan dengan baik, energi arus laut dapat menjadi sumber energi terbarukan yang signifikan bagi Indonesia. (*)

14 Feb 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pemerintah Bangun Pusat Riset Rumput Laut di Lombok Timur

Indonesia membangun pusat riset rumput laut bertaraf dunia bernama International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) di kawasan Teluk Ekas, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Menggandeng dua kampus ternama dari AS dan China, pusat riset ini ditargetkan mampu meningkatkan ekonomi pesisir dengan komoditi utama rumput laut.

Menurut Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, pemerintah memandang penting memperkuat riset rumput laut Indonesia sebagai bagian dari strategi nasional dan transformasi ekonomi pesisir.

"Fokus besar kami beberapa bulan terakhir adalah menjadikan Indonesia pusat rumput laut dunia, dan itu harus dimulai sekarang. Karena itu, kita membangun pusat riset bertaraf internasional dengan standar dan jejaring yang memang global," kata

Wamendiktisaintek, Sabtu (14/02/2026).
Area Teluk Ekas dipilih sebagai lokasi riset karena telah lama menjadi ruang hidup masyarakat pesisir, baik sebagai kawasan budidaya maupun tangkap.Pusat riset ini diharapkan bisa meningkatkan hasil tangkapan dan kualitas budi daya dengan bibit rumput laut yang lebih unggul berbasis riset.

Sejumlah fasilitas dalam pusat riset tersebut akan dibangun, di antaranya gedung penelitian, asrama bagi peneliti internasional, apotek, serta sarana pendukung lainnya.

Stella menyoroti Indonesia saat ini adalah produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, menguasai sekitar 75 persen pasar global.

"Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai 12 miliar Dolar Amerika Serikat (AS) per tahun, dan diperkirakan akan terus meningkat," ujarnya.

Walaupun demikian, Stella menekankan posisi Indonesia di pasar global dinilai belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri.

Ia menggarisbawahi bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi produsen bahan mentah, melainkan menjadi pusat inovasi dan nilai tambah. Maka, ITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasional.

"Kami bekerja sama dengan University of California, Berkeley, dan Beijing Genomics Institute dari China. Beijing Genomics Institute berkomitmen mendukung pendanaan Rp3 miliar untuk dua tahun pertama, termasuk peralatan dan peneliti. Kemdiktisaintek juga telah mengalokasikan Rp1,5 miliar untuk tahap awal," ucap Stella Christie.
L

Secara ekologis, Teluk Ekas memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung, dengan arus dan sirkulasi air yang cukup baik. Kondisi ini menjadikannya ideal sebagai living laboratory untuk riset produktivitas, ketahanan iklim, dan pengembangan biomassa skala tropis.Tidak hanya rumput laut Kappaphycus sebagai bahan baku karagenan, kawasan ini juga potensial untuk pengembangan jenis rumput laut Caulerpa, Ulva, dan Halymenia. (*)

12 Feb 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pemerintah Mulai Inspeksi Kelaiklautan Kapal Angkutan Lebaran

Pemerintah menegaskan komitmen untuk terus memantau dan mengevaluasi aktivitas transportasi laut selama Angkutan Lebaran 2026, khususnya di pelabuhan penyeberangan yang diproyeksikan mengalami lonjakan penumpang. Komitmen itu diwujudkan dengan melakukan inspeksi dan pemeriksaan kelaiklautan kapal yang melayani angkutan Lebaran.

Yang pertama diperiksa kelaiklautan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub) adalah kapal penumpang di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi, Jawa Timur, pada 10–12 Februari 2026, yang sedang melakukan persiapan Angkutan Laut Lebaran.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Samsuddin mengatakan pemeriksaan kelaiklautan dilakukan sebagai langkah preventif. Hal itu untuk memastikan seluruh armada penumpang dalam kondisi laik laut sebelum periode angkutan Lebaran yang diperkirakan mengalami lonjakan penumpang.

“Pemeriksaan ini kami lakukan untuk memastikan seluruh aspek keselamatan terpenuhi, mulai dari kelengkapan dokumen kapal dan awak kapal, alat keselamatan dan pemadam kebakaran, sistem manajemen kapal, alat navigasi, permesinan hingga aspek stabilitas kapal,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis.

Pemeriksaan dipimpin Kepala Subdirektorat Rancang Bangun, Stabilitas dan Garis Muat Kapal Ditkapel, Amir Makbul, didampingi tim Kantor KSOP Kelas III Tanjung Wangi serta Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

Tiga kapal penumpang yang melayani lintasan Jawa–Bali menjadi objek pemeriksaan, yakni KMP Portlink VII, KMP Mutiara Sentosa III, dan KMP Perkasa Prima 5.

Marine Inspector KSOP Tanjung Wangi sebelumnya telah melakukan pemeriksaan terhadap 47 dari total 55 kapal yang beroperasi di lintas penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, sementara delapan kapal lainnya diperiksa oleh UPP Kelas II Gilimanuk.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, Kemenhub melaporkan kondisi kapal penumpang di Pelabuhan Ketapang dan Tanjung Wangi secara umum dinyatakan baik dan laiklaut, meski ditemukan beberapa kekurangan minor yang harus segera dilengkapi.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memproyeksikan jumlah penumpang pada Angkutan Laut Lebaran 2026 mencapai 1,67 juta orang di lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Angka ini meningkat sekitar 3 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 1,62 juta penumpang. (*)