Berita

29 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Mengapa Banyak Bajak Laut di Somalia?

Baru-baru ini, makin sering terdengar aksi perompak atau bajak laut di Perairan Somalia, Afrika. Itu bukan kabar baru sebenarnya. Sebab, sejak puluhan tahun lalu, pembajakan kapal di /Somalia sudah sering terjadi. Kenapa bajak laut banyak ditemukan di Somalia? Berikut sejarah bajak laut Somalia.

Negara Somalia mempunyao pantai terpanjang di Afrika. Namun sayangnya, para nelayan Somalia kurang gigih dan kerjakeras dalam memanfaatkan potensi perikanan laut di wilayahnya. Potensi maritim di Somalia dibiarkan mangkrak tanpa ada usaha melainkan eksplorasi atau eksploitasi. akibatnya, sektor penangkapan ikan di Somalia tergolong kecil dan kurang berkembang. Nelayan hidup miskin.

Efek lanjutannya adalah, nelayan dan pengusaha asing diberi izin untuk melakukan eksplorasi ikan di perairan Somalia. Hasilnya melimpah. Akhirnya, warga lokal hanya me jadi penonton di tengah pesta hasil laut oleh warga asing. Kapal-kapal asing 'menggantikan' peran nelayan lokal di perairan Somalia hingga 70 tahun lamanya.

Di tengah kesenjangan itu, sebagian nelayan Somalia mulai berpikir untuk 'minta jatah' dari kapal-kapal asing yang bertebaran di laut mereka. Apalagi, akibat ulah kapal-kapal asing itu, terjadi kerusakan ekosistem di laut Somalia yang membuat nelayan kesulitan mencari ikan.

Keadaan nelayan dan sejumlah masyarakat yang bermasalah, mendorong orang-orang Somalia untuk mencoba cara baru dalam menghasilkan uang dengan cara cepat.

Para nelayan kemudian menggandeng milisi dan pemuda pengangguran untuk diajak jadi perompak.

Mereka pun mulai merealisasikan ide untuk membajak kapal asinh dan meminta uang tebusan. Hal itulah yang menjadi awal dari pembajakan di Somalia.

Melansir Marine Insight, sejak tahun 1990an, pembajakan di wilayah Somalia terus mengalami peningkatan. Hal itu dipicu oleh lemahnya pengawasan pemerintah, ketidakstabilan politik, kurangnya lapangan pekerjaan, kecilnya layanan pendidikan dan kesehatan yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindak kriminal. (*)

29 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Mengapa Banyak Bajak Laut di Somalia?

Baru-baru ini, makin sering terdengar aksi perompak atau bajak laut di Perairan Somalia, Afrika. Itu bukan kabar baru sebenarnya. Sebab, sejak puluhan tahun lalu, pembajakan kapal di /Somalia sudah sering terjadi. Kenapa bajak laut banyak ditemukan di Somalia? Berikut sejarah bajak laut Somalia.

Negara Somalia mempunyao pantai terpanjang di Afrika. Namun sayangnya, para nelayan Somalia kurang gigih dan kerjakeras dalam memanfaatkan potensi perikanan laut di wilayahnya. Potensi maritim di Somalia dibiarkan mangkrak tanpa ada usaha melainkan eksplorasi atau eksploitasi. akibatnya, sektor penangkapan ikan di Somalia tergolong kecil dan kurang berkembang. Nelayan hidup miskin.

Efek lanjutannya adalah, nelayan dan pengusaha asing diberi izin untuk melakukan eksplorasi ikan di perairan Somalia. Hasilnya melimpah. Akhirnya, warga lokal hanya me jadi penonton di tengah pesta hasil laut oleh warga asing. Kapal-kapal asing 'menggantikan' peran nelayan lokal di perairan Somalia hingga 70 tahun lamanya.

Di tengah kesenjangan itu, sebagian nelayan Somalia mulai berpikir untuk 'minta jatah' dari kapal-kapal asing yang bertebaran di laut mereka. Apalagi, akibat ulah kapal-kapal asing itu, terjadi kerusakan ekosistem di laut Somalia yang membuat nelayan kesulitan mencari ikan.

Keadaan nelayan dan sejumlah masyarakat yang bermasalah, mendorong orang-orang Somalia untuk mencoba cara baru dalam menghasilkan uang dengan cara cepat.

Para nelayan kemudian menggandeng milisi dan pemuda pengangguran untuk diajak jadi perompak.

Mereka pun mulai merealisasikan ide untuk membajak kapal asinh dan meminta uang tebusan. Hal itulah yang menjadi awal dari pembajakan di Somalia.

Melansir Marine Insight, sejak tahun 1990an, pembajakan di wilayah Somalia terus mengalami peningkatan. Hal itu dipicu oleh lemahnya pengawasan pemerintah, ketidakstabilan politik, kurangnya lapangan pekerjaan, kecilnya layanan pendidikan dan kesehatan yang mendorong masyarakat untuk melakukan tindak kriminal. (*)

27 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

KRI Canopus-936, Kapal Baru Canggih Milik TNI AL

TNI Angkatan Laut (AL) akan segera memiliki kapal baru yang canggih. Namanya KRI Canopus-936, sebuah kapal survei canggih terbaru yang akan dioperasikan oleh Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL. Kapal ini diharapkan meningkatkan kapasitas survei hidro-oseanografi nasional karena memiliki teknologi yang lebih modern

Kapal yang dibuat melalui kerja sama PT Palindo Marine dan Abeking & Rasmussen ini dilaporkan sedang berlayar menuju Indonesia dari pabriknya di Jerman. Sebelum berlabuh di Indonesia, kapal ini transit dahulu di Port Louis, Mauritius, Madagaskar. Pelayaran ini menjadi bagian dari proses pengiriman kapal setelah menyelesaikan pembangunan dan pengujian di galangan Abeking & Rasmussen, Lemwerder.

Menurut Danpushidrosal Laksamana Madya TNI Budi Purwanto, dalam siaran persnya, pengoperasian kapal survei modern ini mampu memberikan dukungan penyediaan data dan peta laut untuk keselamatan navigasi pelayaran, operasi TNI Angkatan Laut, serta pengelolaan wilayah perairan Indonesia. KRI Canopus-936 juga disebut sebagai bagian dari upaya modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI Al di bidang survei dan pemetaan laut.

Kapal ini akan menunjang kepentingan pertahanan, keamanan, dan kedaulatan maritim.

"Indonesia membutuhkan sarana survei laut berdaya jelajah samudra yang mampu beroperasi secara mandiri, berkelanjutan, dan presisi tinggi," ucapnya. KRI Canopus-936 dirancang tidak hanya sebagai kapal survei ilmiah, tetapi juga sebagai platform pendukung operasi militer nontempur dan pengawasan maritim. Pembangunan KRI Canopus-936 dilaksanakan selama 36 bulan oleh galangan Palindo Marine, bekerja sama dengan galangan Abeking & Rasmussen dari Jerman sebagai mitra teknologi. (*)

26 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Merintis Proyek Energi Masa Depan RI dari Laut Dalam

Eksplorasi dan eksploitasi tambang mineral dari darat di Indonesia sudah semakin menipis. Untuk itu, peneliti mengusulkan pemerintah untuk mulai melirik proyek tambang di laut dalam. Sebab, ada temuan sejumlah titik di laut dalam yang memiliki potensi mineral tambang yang sangat besar.

Ketiga lokasi tambang mineral di laut dalam Indonesia ditemukan mulai dari Kawio Barat di kawasan Sangihe, Komba Ridge di Flores, hingga perairan Jailolo di Halmahera Barat dan Cekungan belakang Busur Banda. Di sejumlah titik itu terdapat deposit nodul polimetalik, sulfida masif dasar laut, serta kerak feromangan kaya kobalt. Tiga jenis deposit utama tersebut merupakan 'harta karun' yang menjadi incaran global.

Menurut peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Noor Cahyo Dwi Aryanto, temuan deposit harta karun itu berpotensi menjadi kunci masa depan energi Indonesia di masa mendatang. Dikatakan Cahyo Dwi, keterbatasan sumber daya tambang di darat serta meningkatnya kebutuhan mineral untuk teknologi energi mendorong eksplorasi ke laut dalam.

"Era energi fosil telah mencapai batas, dan kini dunia bergerak menuju energi alternatif berbasis mineral," kata Cahyo, Minggu (26/4/2026).

Dijelaskan Cahyo, salah satu temuan penting berasal dari kawasan Komba dan Banda, di mana peneliti menemukan anomali suhu air laut yang justru meningkat seiring bertambahnya kedalaman. Fenomena ini mengindikasikan adanya sistem hidrotermal aktif yang membawa kandungan logam bernilai tinggi.
Mineral yang teridentifikasi dalam sistem tersebut antara lain tembaga, seng, perak hingga emas, komoditas yang sangat dibutuhkan untuk mendukung teknologi energi masa depan, termasuk baterai dan infrastruktur energi bersih.

Meski potensinya besar, eksplorasi laut dalam tidak mudah dilakukan. Cahyo menjelaskan, kegiatan ini memerlukan teknologi canggih seperti Remotely Operated Vehicle (ROV) dan Autonomous Underwater Vehicle (AUV) untuk menjangkau kedalaman ribuan meter.
Selain itu, aspek regulasi juga menjadi tantangan tersendiri, terutama untuk wilayah laut lepas yang berada di bawah kewenangan International Seabed Authority.

Sebagai langkah strategis, Indonesia telah menyusun peta jalan eksplorasi mineral laut dalam hingga 2030. Upaya ini melibatkan kolaborasi lintas lembaga serta penguatan kapasitas riset nasional, termasuk rencana pengadaan kapal riset baru.(*)

22 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Proyek Unik Thailand, Terumbu Karang Bertema Ramayana

Ide brilian menggabungkan konsep perlindungan lingkungan bawah laut dengan bisnis wisata dicanangkan dengan sangat baik di Thailand. Bekerjasama dengan Korea Selatan, pemerintah Thailand menyulap kawasan bawah laut di Teluk Siam, Pulau Racha Yai, menjadi surga terumbu karang bertema cerita epik Ramayana.

Proyek restorasi terumbu karang bertajuk 'Magical of Save Underwater World' tersebut dilakukan untuk memecah overload wisatawan yang menumpuk di Pantai Phuket. Tahap pertama, proyek ini memasang terumbu karang buatan raksasa berbentuk patung Hanuman, salah satu tokoh utama dalam cerita Ramayana. Karakter epos Ramayana lainnya seperti Rama, Ravana, dan Suvannamaccha akan menyusul dipasang di dasar laut Teluk Siam.

Pembangunan ini menjadi upaya Thailand dalam menyediakan destinasi wisata ramah lingkungan. Struktur tersebut mencakup 73 bagian yang terdiri dari patung utama Hanoman serta terumbu karang buatan hasil cetak tiga dimensi (3D) pada kedalaman 19 meter.

Menurut ketua pelaksana proyek, Sasawat Limpanich, instalasi tersebut memiliki fungsi ekologis untuk mempercepat pertumbuhan karang. Desain struktur memungkinkan biota laut menjadikan lokasi ini sebagai habitat permanen.

"struktur tersebut dirancang sebagai rumah baru untuk bagi biota laut. Dengan begitu, terumbu karang dapat menempel dan tumbuh secara alami di area tersebut," ujar Sasawat.

Lokasi ini juga diproyeksikan sebagai pemecah konsentrasi wisatawan agar tidak menumpuk di area terumbu karang asli. Langkah tersebut diambil guna menekan kerusakan ekosistem akibat aktivitas manusia secara langsung di wilayah perairan Phuket.

"Selain itu, lokasi ini juga dimaksudkan sebagai alternatif destinasi menyelam yang apik serta mengurangi dampak langsung manusia pada area terumbu karang asli. Bukan hanya itu, nantinya juga di tempat ini akan menjadi tempat edukasi untuk meningkatkan kesadaran perihal konservasi laut bagi masyarakat dan juga wisatawan," kata Sasawat. (*)

21 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Dua Hari Terjebak di Tengah Laut, Dua Wisatawan Ditemukan Selamat

Dua wisatawan yang sedang bermain paddle di pantai Gili Trawangan, Nusa Tenggara Barat, akhirnya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat, Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 09.00 WITa. Keduanya, Romi (24) warga Lembar, dan Arin (25), terseret air laut hingga ditemukan dua hari kemudian di perairan utara Pulau Gili Air.

Awalnya, kedua korban bermain air dengan naik satu paddle board yang mereka gunakan bersama. Keduanya kemudian terbawa arus hingga memasuki jalur ALKI. Dalam kondisi tersebut, mereka berupaya mengayuh saat arus mengarah ke tenggara.

Selama dua hari mereka terapung-apung di tengah laut, mencoba mengayuh paddle namun mereka malah makin terseret menjauhi oantai. Hingga akhirnya dua hari kemudian mereka ditemukan oleh nelayan setempat yang kebetulan lewat.

Setelah ditemukan, kedua korban langsung dievakuasi menuju Gili Trawangan dan dibawa ke salah satu penginapan untuk pemulihan kondisi.
Tim SAR gabungan yang tengah melaksanakan pencarian segera merapat ke Gili Trawangan guna memastikan kondisi korban dan melakukan koordinasi lebih lanjut.

“Setelah menerima informasi, kami segera merapat ke gili trawangan untuk memastikan kondisi korban,” ungkap Koordinator Unit Siaga SAR Bangsal, I Gusti Komang Aryadana.

Selanjutnya, setelah kondisi membaik, korban direncanakan dibawa ke Bangsal untuk dipertemukan dengan keluarga.
Operasi SAR melibatkan berbagai unsur, di antaranya Tim Rescue Kantor SAR Mataram dan Unit Siaga SAR Bangsal, Polair Polda NTB, Polair Lombok Utara, Polsek Pemenang, TNI AL, Barasiaga, Pokmaswas Trawangan, Lembaga Adat Trawangan, Barasiaga, serta masyarakat setempat. (*)

20 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pemerintah Indonesia Percepat Pembangunan Tanggul Laut Raksasa

Pemerintah Indonesia mempercepat rencana pembangunan tanggul laut raksasa (giant sea wall) di sepanjang Pantai Utara. Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung rapat terbatas bersama jajaran Menteri Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin. Rapat digelar untuk mematangkan rencana pembangunan tanggul laut raksasa sebagai salah satu proyek strategis nasional.

Proyek tersebut dirancang untuk melindungi kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang memiliki peran vital, termasuk sekitar 60 persen kawasan industri, serta lebih dari 30 juta penduduk di wilayah terdampak.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa perguruan tinggi akan dilibatkan secara aktif melalui kontribusi riset dan inovasi.

Berbagai hasil penelitian yang telah diuji, termasuk di wilayah Demak dan Semarang, akan menjadi bagian dari upaya mempercepat pembangunan yang lebih efisien dan tepat guna.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Diktisaintek akan mengoordinasikan para guru besar dan pakar untuk tidak hanya memberikan kajian teknis, tetapi juga terlibat langsung dalam tim pelaksana.
Sementara itu, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus Kepala Badan Pengelola Pantai Utara Jawa Didit Herdiawan Ashaf menyampaikan bahwa proyek ini masih tahap perencanaan yang mendalam.

Perencanaan tersebut khususnya terkait aspek konstruksi dan pemanfaatan sumber daya dalam negeri, termasuk pendekatan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan giant sea wall tidak hanya berfokus pada kecepatan, tetapi juga kualitas perencanaan.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri menjadi kunci untuk memastikan proyek ini kuat secara teknis, tepat secara ekonomi, dan berkelanjutan bagi lingkungan. (*)

18 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Mengenal Laut Merah, Laut Indah di Tepian Jazirah Arab

Setelah Selat Hormuz, Laut Merah yang ada di jazirah Arab menjadi sorotan dunia. Konflik yang terjadi di selat paling penting di dunia ini berpotensi akan menjalar ke Laut Merah. Terlepas dari konflik itu, tahukah Anda kenapa disebut Laut Merah? Berikut ulasannya.

Laut Merah atau laut yang pernah dibelah oleh Nabi Musa, adalah perairan yang memisahkan Arab dengan Afrika. Laut Merah memiliki luas permukaan sekitar 438 ribu kilometer persegi, panjang sekitar 2.250 kilometer, dan kedalaman rata-rata 490 meter.

Ada banyak kita wisata dunia yang berada di tepi Laut Merah, seperti Sharm El Sheikh bagi mereka yang menyukai pantai dan menghabiskan waktu di bawah sinar matahari, Hurghada bagi mereka yang menyukai selancar angin, Marsa Alam bagi mereka yang ingin menjalani kehidupan istimewa dengan merasakan suhu yang tenang dan menemukan kehidupan suku Badui.

Jalur ke laut di selatan melewati Babul Mandib dan Teluk Aden, sedangkan di utara melewati Semenanjung Sinai dan Terusan Suez.

Menurut penelitian, di sana terdapat ledakan populasi alga Trichodesmium erythraeum, yang saat alga ini mati, mereka mengubah warna air yang biasanya biru kehijauan menjadi cokelat kemerahan.

Selain itu, Laut Merah letaknya berdekatan dengan pegunungan merah yang disebut pegunungan Adom yang memantulkan warna merah ke arah laut, terutama di Hurghada, Sharm El Sheikh, Marsa Alam, dan Dahab.

Di perairan ini juga terdapat berbagai jenis ikan langka yang tidak ditemukan di laut lain, serta keberadaan terumbu karang yang berwarna-warni.

Terumbu karang di sini telah ada sejak 7.000 tahun yang lalu. Banyak juga bangkai kapal perang yang karang di sini.
Sebagian area terumbu karang di Laut Merah masuk bagian Taman Nasional Ras Mohammed di Mesir. Perairannya menjadi habitat lebih dari 1.200 spesies ikan endemik, termasuk 44 spesies hiu. (*)

16 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pusat Kuliner Laut Nuansa Bali di Pasar Lama Tangerang

Pasar Lama Tangerang dikenal banyak terdapat berbagai macam kuliner yang menggugah selera. Salah satu yang cukup unik dan banyak digemari adalah sebuah restoran seafood yang membawa konsep dan nuansa Bali. Restoran bernama “Serasa di Bali”, ini menawarkan pengalaman bersantap seafood dengan nuansa dan cita rasa khas Pulau Dewata.

Menurut pemilik restoran, Jacky Wiliawan, ide mendirikan restoran 'Serasa di Bali' ini lahir dari kecintaannya terhadap kuliner seafood Bali. Di mana kuliner Bali menghadirkan cita rasa yang unik dan khas. 

“Konsepnya adalah bagaimana orang bisa makan seafood yang rasanya seperti di Bali, tapi cukup datang ke Kota Tangerang saja,” katanya seperti dikutip dari website resmi Pemkot Tangerang.

Berbeda dari restoran seafood pada umumnya, Serasa di Bali menghadirkan berbagai hidangan laut segar yang didominasi bahan-bahan live seafood. Mulai dari udang, kerang, cumi, kepiting, hingga lobster tersedia dalam kondisi segar untuk menjaga kualitas rasa.

Tidak hanya itu, restoran ini juga menghadirkan beberapa jenis ikan seperti ikan kue dan ikan kakap putih, serta ikan khas dari Sulawesi seperti ikan kaneke. Semua bahan dipilih untuk menghadirkan karakter rasa yang mendekati hidangan laut khas Bali.

Salah satu daya tarik utama Serasa di Bali adalah konsep live seafood yang menjadi andalan. Pelanggan dapat memilih langsung bahan makanan laut yang masih segar, sehingga kualitas dan kesegaran menjadi prioritas utama.

Menariknya, harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, mulai dari kisaran puluhan ribu rupiah. “Semua seafood kita fresh dan hidup. Bahkan mulai dari 20 ribuan sudah bisa makan kerang yang benar-benar fresh,” jelas Jacky.

Berlokasi di kawasan strategis Pasar Lama Tangerang, Jalan Kisamaun No. 179–181, restoran ini buka setiap hari dari pukul 11.30 siang hingga 22.00 malam, menjadikannya pilihan kuliner yang cocok untuk makan siang hingga makan malam bersama keluarga maupun teman. (*)

14 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Energi Mahal, Kargo Udara Tertekan tapi Kargo Laut Makin Dibutuhkn

Konflik geopolitik membuat industri kargo udara makin berbiaya mahal. Sebab, harga kebutuhan energi semakin tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, para pengusaha dunia melirik kargo laut sebagai alternatif pengganti.

Menurut Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, tekanan pada industri kargo udara global dipicu kenaikan harga komoditas energi sebagai dampak eskalasi geopolitik.

“Kenaikan harga avtur global secara historis berada pada kisaran USD 75–87 per barel, namun saat ini mencapai USD 175–200 per barel. Hal ini menyebabkan permintaan kargo udara global turun sekitar 22 persen, dengan rute Asia–Eropa tertekan hingga 39 persen,” ujar Yukki dalam keterangan, (14/4/2026).

Dia menambahkan, dinamika global tersebut berdampak langsung pada sektor logistik nasional. Struktur logistik Indonesia yang masih didominasi transportasi darat hingga sekitar 90 persen membuat sistem distribusi domestik rentan terhadap tekanan eksternal.

Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke moda darat dan laut. Kondisi ini dapat meningkatkan beban infrastruktur yang telah menghadapi tantangan kapasitas dan efisiensi.

“Pergeseran arus kargo udara ini menjadi peluang bagi pelaku usaha logistik laut dan darat dalam menjaga kelancaran distribusi. Namun, peluang ini hanya optimal jika diiringi peningkatan efisiensi operasional dan penguatan konektivitas pelabuhan dengan wilayah hinterland,” kata Yukki.

Tekanan pada kargo udara mempertegas urgensi pengembangan sistem logistik multimoda di Indonesia. Integrasi transportasi darat, laut, kereta api, dan udara menjadi kebutuhan mendasar untuk menciptakan sistem logistik yang adaptif dan tangguh.
Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di koridor Jawa, dinilai masih memiliki ruang besar untuk dioptimalkan sebagai alternatif distribusi yang lebih efisien bagi jenis barang tertentu.

“Perubahan ini juga mendorong pergeseran perilaku pelaku usaha. Pengirim barang menjadi lebih sensitif terhadap biaya dan cenderung memperpanjang perencanaan rantai pasok, termasuk meningkatkan buffer stock. Sementara itu, perusahaan logistik dituntut bertransformasi dari sekadar penyedia jasa menjadi mitra strategis yang menawarkan solusi terintegrasi,” pungkasnya. (*)

13 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Mengungkap Misteri Mahluk Misterius di Palung Perairan Jepang

Tim peneliti internasional melakukan penelitian ke dua palung terdalam di Perairan  Jepang, Palung Ryukyu sedalam 7.900 meter dan Palung Izu-Ogasawara sedalam 9.800 meter. Ekspedisi yang dilakukan selama dua bulan itu berhasil menemukan sekitar 108 kelompok organisme berbeda serta satu makhluk misterius yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Peneliti dari University of Western Australia dan Tokyo University of Marine Science and Technology melakukan ekspedisi besar dengan dukungan Caladan Oceanic dan Inkfish.

Mereka menggunakan kapal penelitian DSSV Pressure Drop serta kapal selam berawak Limiting Factor untuk menjelajah dasar laut.

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah makhluk aneh yang belum dapat diklasifikasikan secara ilmiah, yang sementara diberi label Animalia incerta sedis.

Makhluk ini terekam dua kali melayang di kedalaman sekitar 9.137 meter. Meski telah dibicarakan dengan ahli taksonomi global, belum ada yang mampu menentukan kelompok biologinya. Secara sekilas, bentuknya menyerupai siput laut atau teripang, namun identitas pastinya masih menjadi misteri.

Selain itu, peneliti juga menemukan populasi padat organisme laut dalam yang hidup di dasar laut. Di titik geologi langka bernama Boso Triple Junction pada kedalaman sekitar 9.737 meter, mereka melihat padang krinoid, hamparan hewan laut yang menyerupai bunga lili laut.

Di Palung Izu–Ogasawara, tim juga menemukan spons karnivora dari keluarga Cladorhizidae di kedalaman lebih dari 9.500 meter, rekor terdalam untuk pengamatan langsung spesies tersebut.

Sementara itu, kamera berhasil merekam ikan siput (snailfish) dari genus Pseudoliparis yang sedang makan di kedalaman 8.336 meter, menjadi rekor baru pengamatan ikan terdalam di habitat alaminya.

Perangkat lander juga mengungkap keberadaan Alicella gigantea, krustasea raksasa yang tampaknya hidup di seluruh palung yang diteliti. Meski terlihat seperti wilayah yang belum tersentuh, peneliti menemukan jejak sampah buatan manusia di dasar laut, kemungkinan terbawa arus dari wilayah yang lebih tinggi. (*)

12 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Musim Kemarau Ancam Darat, tapi Berkah bagi Nelayan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan musik kemarau akan terjadi mulai April hingga September 2026. Musik kemarau kali ini akan lebih kering dari tahun sebelumnya karena didorong oleh fenomena ek nino. Namun demikian, musik kemarau yang ada di depan mata ini justru menjadi berkah bagi nelayan dan dunia perikanan tanah air. Kok bisa? Simak penjelasannya.

Menurut penjelasan dari peneliti Oseanografi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo, awal kemarau memicu pergerakan Angin Timuran yang kuat.

Angin ini mendorong massa air permukaan laut ke arah lepas pantai, yang kemudian digantikan oleh massa air dingin kaya nutrien dari lapisan yang lebih dalam atau biasa disebut upwelling.

"Massa air yang terangkat ini membawa 'pupuk alami' berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita," katanya, Sabtu (16/3).

Menurutnya, fitoplankton akan mulai berkembang pada April-Mei 2026, mulai melonjak pada Juni 2026, dan puncaknya di Juli-Agustus 2026. Prediksi ini akan menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali.

"Dinamika laut ini sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim. Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya," kata Widodo.

Fenomena upwelling di selatan Jawa ini memiliki karakteristik unik yang dikenal secara internasional dengan sebutan RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling).

Hasil analisis data menunjukkan bahwa keberadaan lapisan thermocline yang terangkat ke atas selama proses upwelling menjadi indikator utama dalam memetakan daerah penangkapan ikan.
Riset ini berhasil mengidentifikasi bahwa wilayah Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk Tuna Sirip Biru Selatan (Southern Bluefin Tuna), Cakalang, dan Tuna Mata Besar.

Selain itu, riset tersebut juga mencatat sinergi antara Angin Timuran dan fenomena El Niño dapat memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada pelonjakan stok ikan pelagis. (*)