Berita
4 Okt 2023
Penulis : Folber Siallagan
Bahan Bakar Kapal Ramah Lingkungan Inovasi Pertamina Diakui Dunia
Ini adalah kabar yang cukup membanggakan bagi industri energi dan industri perkapalan tanah air. Sebab, BUMN Pertamina berhasil menciptakan inovasi bahan bakar kapal ramah lingkungan 'Marine Fuel Oil (MFO) Low Sulphur' yang mendaoatkan pengakuan internasional. Produk ini adalah salah satu produk inovasi karya perwira Kilang Pertamina Plaju (PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju) Palembang, Sumatera Selatan.
"Produk tersebut telah diperkenalkan di hadapan para delegasi The 24th World Petroleum Congress di Calgary, Kanada yang dihelat pada 17-21 September 2023," kata GM Kilang Pertamina Plaju Yulianto Triwibowo.
Produk bahan bakar kapal ramah lingkungan itu sudah dipresentasikan di hadapan di forum The 24th WPac Congress dalam paper berjudul 'The Journey of Environmental Friendly Ships Fuel Production in Indonesia' oleh Daniswara Krisna Prabatha (Engineer I Offsite & Product Distribution Process) sebagai delegasi dari Kilang Pertamina Plaju.
Paper itu disusun bersama Co-Author dari tim Cucuba yang dipimpin Endah Purbarani (Manager RBO) sebagai Team Leader, beranggotakan Murtina Dwi Lastuti, Aliefita Rakhim Sukmawati, Vico Kurniawan Susditianto, Wahyu Solihin, Budi Yulianto dan Dede Pratama.
Marine Fuel Oil Low Sulphur atau bahan bakar kapal dengan kandungan sulfur yang rendah, adalah jenis bahan bakar yang digunakan dalam industri perkapalan, khususnya setelah diberlakukannya peraturan internasional yang ketat terkait emisi sulfur (belerang) dari kapal laut, yang dikeluarkan International Maritime Organization (IMO) pada 2020.
MFO LS merupakan salah satu alternatif ramah lingkungan untuk bahan bakar kapal karena menghasilkan emisi sulfur (belerang) yang lebih rendah.
Selain itu, penggunaan MFO LS juga dapat membantu mengurangi pembentukan hujan asam dan pencemaran udara lainnya.
"Setelah ini, di masa depan, kami akan membuat lebih banyak produk petrokimia seperti aromatik, paraxylene dan juga olefin, ethylene, propylene,” kata Yulianto.
Produk MFO LS ini diolah oleh Kilang Pertamina Plaju setelah melewati serangkaian tahapan Research & Development (R&D) dengan bahan baku 'vacuum residue' sebagai 'low valuable product' yang berpotensi untuk ditingkatkan (upgrade) menjadi MFO LS sebagai 'high valuable product'.
Selain itu, produksi MFO LS juga dilatarbelakangi permintaan (demand) yang terbuka lebar di pasar domestik dan internasional, karena keterbatasan bahan bakar kapal yang memenuhi regulasi IMO sehingga industri kapal harus memasang 'scrubber' di 'exhaust' kapal untuk menurunkan emisi.
Apalagi pada akhir 2021 lalu, Menko Maritim dan Investasi RI Luhut B. Pandjaitan telah menyampaikan kesiapan Indonesia dalam 'Decarbonizing & Desulphurizing Shipping' dengan kebutuhan MFO rendah sulfur dalam negeri dipenuhi 100 persen produksi Indonesia.
Lokasi yang strategis dekat dengan sumber bahan baku (sumur minyak) dan memiliki karakteristik spesifikasi minyak mentah untuk memenuhi produk sesuai dengan target spesifikasi.
Yulianto menambahkan, inovasi produk ini merupakan yang pertama di Indonesia, hal ini membuat produk ini semakin unggul dan mendunia, kualitas sulfur MFO LS dari RU III (Refinery Unit III) adalah dianggap sebagai terbaik di kelasnya dibandingkan dengan rata-rata sulfur kualitas VLSFO (Very Low Sulphur Bahan Bakar Minyak) secara global.
Sepanjang 2022, nilai penjualan produk MFO LS mencapai USD 626 juta dolar Amerika Serikat (USD) sementara hingga 'Year to Date (YTD)' Agustus 2023 nilai penjualan telah mencapai 404 juta dolar AS, dan hampir 50 persen diekspor untuk konsumen di mancanegara.
Proyek yang dijalankan Kilang Pertamina Plaju dalam menjadi inisiator bisnis MFO LS sebagai bahan bakar kapal ramah lingkungan ini, juga berhasil mengantarkan Direktur Operasi PT KPI Didik Bahagia memperoleh Penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI pada Senin (2/10).(*)
Berita Lainnya
20 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna
Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.
Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5).
Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.
“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.
Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)