Berita
26 Sep 2023
Penulis :
KTT AIS 2023, DKI akan Berbagi Pengalaman Atasi Sampah Laut
Pemprov DKI Jakarta bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah sampah di Teluk Jakarta. Kesungguhan program mengatasi sampah yang mengotori laut akan ditunjukkan kepada para pimpinan negara peserta konferensi tingkat tinggi (KTT) Archipelagic and Island States (AIS) Forum 2023 di Nusa Dua Bali 10-11 Oktober 2023.
“Kita akan menunjukkan kepada masyarakat negara-negara pesisir dan kepulauan tentang rencana pemerintah DKI mengatasi sekaligus memperbaiki ekosistem pesisir yang rusak karena sampah,” kata Senior Advisor for Climate and Environmental Governance, AIS Program Manager Abdul Wahib Situmorang.
Diketahui TT AIS Forum 2023 akan diikuti oleh perwakilan dari 51 negara kepulauan dan pulau. Targetnya dihadiri 25 perwakilan setingkat kepala negara/pemerintahan dan 30 sampai 47 perwakilan setingkat menteri. Tujuan utama KTT ini adalah memperkuat kolaborasi negara-negara anggota dalam mengatasi permasalahan global dengan empat area utama, yaitu mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ekonomi biru, penanganan sampah plastik di laut, dan tata kelola maritim yang baik.
Indonesia tahun ini didaulat sebagai tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Archipelagic and Island States (KTT AIS) Forum. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, lewat forum ini Indonesia diharapkan menjadi inisiator dalam menangani isu-isu global terkait kelautan.
Tahun ini, AIS Forum 2023 mengusung tema "Fostering Collaboration, Enabling Innovation for Our Ocean and Our Future". Agenda pertemuan tersebut akan berfokus kepada tiga aspek penting, yaitu pembangunan ekonomi biru, tantangan perubahan iklim, dan mempererat solidaritas antara negara pulau dan kepulauan.
Menurut Abdul Wahib, rencana-rencana yang dimiliki oleh DKI dapat menjadi inspirasi dan dapat dipelajari bagi negara-negara kepulauan yang mengikuti konferensi tersebut.
“Itu bisa memberikan inspirasi bagi banyak negara pulau dan kepulauan lain bahwa memperbaiki ekosistem pesisir dari sampah itu sangat mungkin dilakukan,” ujar Abdul.
Dia juga menekankan tingginya urgensi penanggulangan sampah plastik pada ekosistem laut. Sebab, peningkatan sampah plastik dapat menyebabkan menurunkan kualitas ekosistem, dan manusia.
Menurutnya, sampah plastik dapat mengganggu proses ekologis dan produksi biomassa dari koral, ikan, dan juga berdampak pada kesehatan. Akibatnya, akan dapat menurunkan daya dukung dan ekonomi dari sumber daya yang terdampak.
Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai langkah untuk mengatasi sampah di pesisir laut, termasuk di Muara Angke. Pada Juli 2023, Pemprov DKI telah melakukan pembersihan sampah dan juga membangun penghalang sampah di wilayah tersebut. (*)
Berita Lainnya
20 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna
Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.
Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5).
Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.
“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.
Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)