Berita

6 Nov 2023

Penulis : Folber Siallagan

Di Manakah Kepala dan Badan Bintang Laut? Ini Kata Ilmuwan

Pernahkah Anda melihat bintang laut? Lantas pernahkah terpikir di mana sebenarnya bagian tubuh kepala, perut dan kali? Tentu sulit menentukan. Nah, baru-baru ini para ilmuwan berhasil

 mengungkap bahwa bagian kepala hewan laut tersebut. Berikut ulasannya

.

Bintang laut termasuk dalam kelompok yang disebut echinodermata, kelas hewan yang mencakup bulu babi, landak laut, dan teripang. Hewan-hewan ini memiliki bentuk tubuh unik yang disusun dalam lima bagian sama besar yang sangat berbeda dari tubuh simetris kepala-ke-ekor hewan lain yang memiliki sisi kiri dan kanan yang saling mencerminkan.

 

Bintang laut berasal dari telur yang telah dibuahi yang menetas dan menjadi larva yang mengapung di lautan, seperti plankton, selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sebelum menetap di dasar laut. Di posisi itu, mereka menjalani proses yang mengubah benda bilateral menjadi bentuk bintang, atau benda pentaradial.

Diketahui, secara umum bintang laut memiliki lima lengan yang juga bisa disebut "kaki tabung". Organ tubuh ini yang membantu makhluk laut tersebut bergerak di dasar laut. Bentuk tubuh yang simetris ini membuat banyak orang bingung apakah bintang laut memiliki ujung depan dan belakang.

Penelitian genetik baru dari sejumlah ilmuwan di AS menunjukkan bahwa bintang laut sebagian besar memiliki kepala namun tidak memiliki batang tubuh atau ekor.


Dasar penemuan itu berawal dari fosil aneh nenek moyang bintang laut, yang tampaknya masih memiliki sejenis batang tubuh.

 

"Seolah-olah bintang laut benar-benar kehilangan belalainya, dan digambarkan hanya sebagai kepala yang merayap di dasar laut. Ini sama sekali bukan asumsi para ilmuwan tentang hewan-hewan ini". kata penulis utama studi Laurent Formery, sarjana pasca doktoral di Universitas Stanford dan Universitas California, Berkeley, AS

 

"Ini telah menjadi misteri zoologi selama berabad-abad," kata rekan penulis studi senior Christopher Lowe, ahli biologi kelautan dan perkembangan di Universitas Stanford.

 

Penemuan ini dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1995.

 

Namun echinodermata juga memiliki nenek moyang yang sama dengan hewan simetri, sehingga menambah teka-teki yang coba dipecahkan oleh para peneliti

. (*)

 

Berita Lainnya

21 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Harga Meroket di Pasaran, Kuda Laut Terancam Punah

Perburuan kuda laut semakin meningkat. Ini setelah kebutuhan kuda laut kering sebagai bahan baku obat tradisional semakin tinggi. Akibatnya harga melambung tinggi. Jika tidak dikelola dan diatur sejak dini, bisa jadi kuda laut akan punah diburu manusia.

Menurut Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Masayu Rahmia Anwar Putri, tingginya nilai ekonomi membuat pemanfaatan kuda laut terus terjadi, dengan harga bisaenembus angka Rp 8 juta per kilogram. 

“Bayangkan kalau satu kampung mengambil kuda laut semua, kita tidak akan menemukannya lagi di daerah tersebut dan bisa punah,” katanya.

BRIN bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan rekomendasi kuota pemanfaatan kuda laut untuk kebutuhan perdagangan, penelitian, maupun indukan budi daya.
Masayu menekankan, pengelolaan kuda laut tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah karena luasnya wilayah perairan Indonesia dan keterbatasan jumlah personel.

Karena itu, Masayu mendorong masyarakat pesisir turut aktif melaporkan tangkapan, menjaga habitat, serta menyebarkan pengetahuan mengenai pentingnya konservasi kuda laut.
Kalau masyarakat pesisir tidak mau berkontribusi, kita tidak bisa mendapatkan data yang sebenarnya,” kata Masayu.

Pemahaman masyarakat terhadap keunikan dan ekologi kuda laut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran untuk menjaga keberlanjutan spesies tersebut di alam.

Hingga saat ini tercatat 13 spesies kuda laut tersebar di berbagai wilayah perairan Indonesia. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring perkembangan riset dan penemuan spesies baru. (*)

20 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

'Sobat', Tradisi Unik Nelayan Derawan Memburu Tuna

Ada sebuah tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para nelayan di kawasan Kepulauan Derawan, Kalimantan Utara. Sebuah tradisi yang biasa disebut 'Sobat'. Di mana, pada musim tertentu, para nelayan turun beramai-ramai membawa pukat tradisional untuk menangkap ikan tuna.

Aktivitas memukat ikan tersebut masih terus dipertahankan oleh kelompok nelayan pesisir hingga sekarang. Selain menjadi sumber penghasilan warga, tradisi itu perlahan berkembang menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan tradisi “sobat” memiliki nilai lebih dari sekadar aktivitas menangkap ikan.
“Tradisi ini kini menjadi destinasi wisata budaya dan wisata bahari di Berau,” katanya, Rabu (20/5). 

Tradisi ini biasanya berlangsung mulai Maret hingga Oktober, menyesuaikan musim saat ikan tuna banyak mendekat ke kawasan Pulau Derawan. Di momen tersebut, nelayan akan turun ke laut menggunakan pukat sederhana secara berkelompok. Gerakan menarik jaring bersama-sama di tengah laut dangkal dengan latar pasir putih dan air jernih menjadi pemandangan khas yang sulit ditemukan di daerah lain.

Menurut Gamalis, tradisi seperti ini penting dijaga karena menjadi bagian dari identitas masyarakat pesisir Derawan, termasuk budaya melaut warga Suku Bajau yang selama ini hidup berdampingan dengan laut.
Ia menilai sektor perikanan dan pariwisata di Berau sebenarnya dapat tumbuh beriringan tanpa harus saling menggeser.

“Tradisi masyarakat pesisir seperti ini memperlihatkan kehidupan asli warga Derawan dan justru bisa memperkuat citra wisata daerah,” katanya.

Potensi itu terlihat dari terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Pulau Derawan. Sepanjang 2025, jumlah wisatawan tercatat mencapai 45.274 orang atau naik sekitar 32,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Mayoritas berasal dari wisatawan nusantara, sementara ribuan lainnya datang dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga sejumlah negara Eropa. (*)

18 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Kuda Laut Indikator Kesehatan Ekosistem Laut

Kuda laut berperan penting sebagai indikator kesehatan ekosistem laut. Keberadaan kuda laut di wilayah lamun, bakau, maupun terumbu karang menunjukkan kondisi lingkungan yang masih baik dan mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.

Menurut Kepala Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Decky Indrawan Junaedi, menurunnya populasi kuda laut dapat menjadi penanda adanya degradasi lingkungan pesisir yang berpotensi memengaruhi stok ikan dan keberlanjutan perikanan masyarakat.

“Dengan kita mengonservasi kuda laut – mengonservasi artinya menjaga, kita melindungi, jangan sampai dia punah, itu sebetulnya secara tidak langsung kita menjaga lingkungannya, termasuk menjaga ikan-ikan yang di sana tetap bisa beranak-pinak,” jelas Decky dalam sebuah lokakarya di Jakarta, Senin (18/05/2026.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat pesisir dalam mendukung keberlanjutan kuda laut. “Bila si kuda laut ini masih ada, Ibu dan Bapak, ini berarti kondisi lingkungan tempat tinggalnya masih membuat dia betah tinggal di sana, karena memang kondisinya masih baik,” kata Decky.
Ia menyampaikan, isu maritim, termasuk konservasi dan perikanan, menjadi salah satu agenda riset utama BRIN. Menurutnya, BRIN terus aktif mendukung kebutuhan penelitian yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya laut melalui kerja sama dengan kementerian, pemerintah daerah, maupun organisasi nonpemerintah.

Kegiatan ini mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan mitra internasional untuk mendiskusikan kondisi ekosistem pesisir, konservasi kuda laut, serta keberlanjutan perikanan Indonesia. (*)

17 Mei 2026

Penulis : Folber Siallagan

Duta Maritim Indonesia Ajak Pemuda Peduli Isu Kelautan

Duta Maritim Indonesia 2025, Vina Avitasari dan Muhammad Rizky, mengajak generasi muda lebih peduli terhadap isu kemaritiman dan lingkungan pesisir.

“Indonesia bukan hanya negara maritim, tapi harus menjadi poros maritim dunia,” kata Vina dalam sebuah wawancara dalam sebuah talkshow di salah satu radio tanah air.

Vina Avitasari mengatakan, menjadi Duta Maritim Indonesia bukan sekadar gelar, tetapi bentuk tanggung jawab untuk memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Menurutnya, anak muda harus mulai mengambil peran dalam menjaga lingkungan pesisir, termasuk melalui langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga ekosistem laut. “Kalau bukan anak muda yang menjaga laut Indonesia, siapa lagi,” ucapnya.

Vina juga menilai Provinsi Banten memiliki potensi maritim yang besar karena memiliki garis pantai panjang serta kawasan pelabuhan strategis.

Namun, potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui perhatian terhadap lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Selain edukasi, keduanya juga aktif mengembangkan inovasi pengolahan limbah kerang menjadi pupuk dan briket sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pengelolaan lingkungan maritim. Mereka berharap semakin banyak anak muda terlibat dalam gerakan menjaga laut dan pesisir Indonesia secara berkelanjutan.

Sementara itu, Muhammad Rizky mengatakan, peran anak muda sangat penting dalam menjaga potensi maritim Indonesia yang luas. Menurutnya, generasi muda tidak hanya harus bangga menjadi bagian dari negara maritim, tetapi juga ikut terlibat dalam menjaga dan mengembangkan sektor tersebut.

Rizky menjelaskan, Duta Maritim Indonesia memiliki tugas menyuarakan isu-isu kemaritiman mulai dari pembangunan pesisir, edukasi lingkungan, hingga inovasi ekonomi berbasis laut. Ia menilai masih banyak generasi muda yang belum memahami potensi besar sektor maritim Indonesia.
Karena itu, ia bersama komunitas yang dibinanya aktif melakukan edukasi kepada anak-anak dan pemuda, khususnya di wilayah perkotaan. Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran bahwa Indonesia memiliki kekayaan laut yang harus dijaga bersama.

“Kita ingin anak-anak tahu kalau Indonesia punya laut yang luas dan banyak potensi,” pungkasnya. (*)