Berita
25 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
Ahli IPB Ciptakan Lampu LED untuk Tangkap Ikan Tanpa Umpan
Hasil inovasi Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, cukup unik. Dia mampu mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan. Lampu LED khusus ini mampu menarik perhatian ikan untuk datang mendekat. Sehingga, membantu nelayan dalam menangkap ikan di laut.
Dalam keterangan persnya, Riyanto menjelaskan bahwa inovasiLED itu menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.
“Pendekatan ini mampu mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto, Senin (25/5/2026).
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.
Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.
Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.
Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.
Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.
Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited. Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal. Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.
“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto. Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil. (*)
Berita Lainnya