Berita
29 Mei 2026
Penulis : Folber Siallagan
Peneliti Temukan Cadangan Air Tawar Terbesar di Dunia Ada di Dasar Laut
Penemuan fenomenal dan unik terjadi saat sekelompok ilmuwan berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel cadangan air tawar raksasa terbesar di dunia. Uniknya, lokasi penemuannya di bawah dasar Samudra Atlantik, tepatnya di laut lepas Pantai Timur Amerika Serikat.
Proyek penelitian bernama IODP³-NSF Expedition 501 tersebut melibatkan 40 ilmuwan dari 13 negara. Tim peneliti berlayar di lepas pantai New England, wilayah selatan Cape Cod, lalu mengebor dasar laut dan mengambil sampel inti sedimen dari lapisan bawahnya.
Hasil pengeboran mengungkap adanya lapisan sedimen sekitar 200 meter di bawah dasar laut yang jenuh oleh air freshened, yakni air laut yang kadar garamnya telah berkurang drastis.
Fenomena itu bisa dibayangkan seperti spons raksasa di bawah laut, mirip akuifer di daratan. Akuifer sendiri merupakan lapisan batuan bawah tanah yang menyimpan air dan sering dimanfaatkan sebagai cadangan air tawar.
Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga struktur seperti ini mungkin ada di bawah laut. Beberapa bukti sebelumnya sempat mengarah ke keberadaannya, namun baru kali ini sistem tersebut berhasil didokumentasikan dan diambil sampelnya secara menyeluruh
“Kami sangat antusias melihat air dengan kadar garam rendah ini ternyata berada di berbagai jenis sedimen, baik sedimen laut maupun daratan. Temuan ini membantu kami memahami kondisi yang membuat air tersebut bisa terperangkap di sana,” ujar Brandon Dugan dari Colorado School of Mines, dikutip IFLScience.
Meski begitu, banyak pertanyaan besar masih belum terjawab. Para peneliti belum mengetahui usia pasti air bawah laut tersebut, berapa total volumenya, maupun bagaimana interaksinya dengan air laut di sekitarnya.
Mereka juga menduga ada komunitas mikroba yang hidup di dalamnya, tetapi sejauh ini belum diketahui jenis mikroorganisme tersebut maupun bagaimana mereka bertahan hidup. Asal-usul air ini pun masih menjadi teka-teki.
Salah satu teori menyebut air tawar itu terjebak saat permukaan laut sekitar 100 meter lebih rendah dibanding sekarang. Kemungkinan lain, air tersebut berasal dari bawah lapisan es atau danau glasial pada salah satu periode zaman es sekitar 450 ribu tahun lalu atau 20 ribu tahun lalu.
“Para peneliti akan terus mempelajari sampel ini untuk mengungkap lebih banyak informasi, termasuk menentukan usia air tanah dengan lebih akurat, yang sangat penting untuk memperluas pemahaman kita,” kata Rebecca Robinson dari University of Rhode Island. (*)
Berita Lainnya