Berita
14 Apr 2026
Penulis : Folber Siallagan
Energi Mahal, Kargo Udara Tertekan tapi Kargo Laut Makin Dibutuhkn
Konflik geopolitik membuat industri kargo udara makin berbiaya mahal. Sebab, harga kebutuhan energi semakin tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, para pengusaha dunia melirik kargo laut sebagai alternatif pengganti.
Menurut Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, tekanan pada industri kargo udara global dipicu kenaikan harga komoditas energi sebagai dampak eskalasi geopolitik.
“Kenaikan harga avtur global secara historis berada pada kisaran USD 75–87 per barel, namun saat ini mencapai USD 175–200 per barel. Hal ini menyebabkan permintaan kargo udara global turun sekitar 22 persen, dengan rute Asia–Eropa tertekan hingga 39 persen,” ujar Yukki dalam keterangan, (14/4/2026).
Dia menambahkan, dinamika global tersebut berdampak langsung pada sektor logistik nasional. Struktur logistik Indonesia yang masih didominasi transportasi darat hingga sekitar 90 persen membuat sistem distribusi domestik rentan terhadap tekanan eksternal.
Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke moda darat dan laut. Kondisi ini dapat meningkatkan beban infrastruktur yang telah menghadapi tantangan kapasitas dan efisiensi.
“Pergeseran arus kargo udara ini menjadi peluang bagi pelaku usaha logistik laut dan darat dalam menjaga kelancaran distribusi. Namun, peluang ini hanya optimal jika diiringi peningkatan efisiensi operasional dan penguatan konektivitas pelabuhan dengan wilayah hinterland,” kata Yukki.
Tekanan pada kargo udara mempertegas urgensi pengembangan sistem logistik multimoda di Indonesia. Integrasi transportasi darat, laut, kereta api, dan udara menjadi kebutuhan mendasar untuk menciptakan sistem logistik yang adaptif dan tangguh.
Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di koridor Jawa, dinilai masih memiliki ruang besar untuk dioptimalkan sebagai alternatif distribusi yang lebih efisien bagi jenis barang tertentu.
“Perubahan ini juga mendorong pergeseran perilaku pelaku usaha. Pengirim barang menjadi lebih sensitif terhadap biaya dan cenderung memperpanjang perencanaan rantai pasok, termasuk meningkatkan buffer stock. Sementara itu, perusahaan logistik dituntut bertransformasi dari sekadar penyedia jasa menjadi mitra strategis yang menawarkan solusi terintegrasi,” pungkasnya. (*)
Berita Lainnya
14 Apr 2026
Penulis : Folber Siallagan
Energi Mahal, Kargo Udara Tertekan tapi Kargo Laut Makin Dibutuhkn
Konflik geopolitik membuat industri kargo udara makin berbiaya mahal. Sebab, harga kebutuhan energi semakin tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, para pengusaha dunia melirik kargo laut sebagai alternatif pengganti.
Menurut Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, tekanan pada industri kargo udara global dipicu kenaikan harga komoditas energi sebagai dampak eskalasi geopolitik.
“Kenaikan harga avtur global secara historis berada pada kisaran USD 75–87 per barel, namun saat ini mencapai USD 175–200 per barel. Hal ini menyebabkan permintaan kargo udara global turun sekitar 22 persen, dengan rute Asia–Eropa tertekan hingga 39 persen,” ujar Yukki dalam keterangan, (14/4/2026).
Dia menambahkan, dinamika global tersebut berdampak langsung pada sektor logistik nasional. Struktur logistik Indonesia yang masih didominasi transportasi darat hingga sekitar 90 persen membuat sistem distribusi domestik rentan terhadap tekanan eksternal.
Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke moda darat dan laut. Kondisi ini dapat meningkatkan beban infrastruktur yang telah menghadapi tantangan kapasitas dan efisiensi.
“Pergeseran arus kargo udara ini menjadi peluang bagi pelaku usaha logistik laut dan darat dalam menjaga kelancaran distribusi. Namun, peluang ini hanya optimal jika diiringi peningkatan efisiensi operasional dan penguatan konektivitas pelabuhan dengan wilayah hinterland,” kata Yukki.
Tekanan pada kargo udara mempertegas urgensi pengembangan sistem logistik multimoda di Indonesia. Integrasi transportasi darat, laut, kereta api, dan udara menjadi kebutuhan mendasar untuk menciptakan sistem logistik yang adaptif dan tangguh.
Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di koridor Jawa, dinilai masih memiliki ruang besar untuk dioptimalkan sebagai alternatif distribusi yang lebih efisien bagi jenis barang tertentu.
“Perubahan ini juga mendorong pergeseran perilaku pelaku usaha. Pengirim barang menjadi lebih sensitif terhadap biaya dan cenderung memperpanjang perencanaan rantai pasok, termasuk meningkatkan buffer stock. Sementara itu, perusahaan logistik dituntut bertransformasi dari sekadar penyedia jasa menjadi mitra strategis yang menawarkan solusi terintegrasi,” pungkasnya. (*)