Berita

16 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pusat Kuliner Laut Nuansa Bali di Pasar Lama Tangerang

Pasar Lama Tangerang dikenal banyak terdapat berbagai macam kuliner yang menggugah selera. Salah satu yang cukup unik dan banyak digemari adalah sebuah restoran seafood yang membawa konsep dan nuansa Bali. Restoran bernama “Serasa di Bali”, ini menawarkan pengalaman bersantap seafood dengan nuansa dan cita rasa khas Pulau Dewata.

Menurut pemilik restoran, Jacky Wiliawan, ide mendirikan restoran 'Serasa di Bali' ini lahir dari kecintaannya terhadap kuliner seafood Bali. Di mana kuliner Bali menghadirkan cita rasa yang unik dan khas. 

“Konsepnya adalah bagaimana orang bisa makan seafood yang rasanya seperti di Bali, tapi cukup datang ke Kota Tangerang saja,” katanya seperti dikutip dari website resmi Pemkot Tangerang.

Berbeda dari restoran seafood pada umumnya, Serasa di Bali menghadirkan berbagai hidangan laut segar yang didominasi bahan-bahan live seafood. Mulai dari udang, kerang, cumi, kepiting, hingga lobster tersedia dalam kondisi segar untuk menjaga kualitas rasa.

Tidak hanya itu, restoran ini juga menghadirkan beberapa jenis ikan seperti ikan kue dan ikan kakap putih, serta ikan khas dari Sulawesi seperti ikan kaneke. Semua bahan dipilih untuk menghadirkan karakter rasa yang mendekati hidangan laut khas Bali.

Salah satu daya tarik utama Serasa di Bali adalah konsep live seafood yang menjadi andalan. Pelanggan dapat memilih langsung bahan makanan laut yang masih segar, sehingga kualitas dan kesegaran menjadi prioritas utama.

Menariknya, harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, mulai dari kisaran puluhan ribu rupiah. “Semua seafood kita fresh dan hidup. Bahkan mulai dari 20 ribuan sudah bisa makan kerang yang benar-benar fresh,” jelas Jacky.

Berlokasi di kawasan strategis Pasar Lama Tangerang, Jalan Kisamaun No. 179–181, restoran ini buka setiap hari dari pukul 11.30 siang hingga 22.00 malam, menjadikannya pilihan kuliner yang cocok untuk makan siang hingga makan malam bersama keluarga maupun teman. (*)

Berita Lainnya

16 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Pusat Kuliner Laut Nuansa Bali di Pasar Lama Tangerang

Pasar Lama Tangerang dikenal banyak terdapat berbagai macam kuliner yang menggugah selera. Salah satu yang cukup unik dan banyak digemari adalah sebuah restoran seafood yang membawa konsep dan nuansa Bali. Restoran bernama “Serasa di Bali”, ini menawarkan pengalaman bersantap seafood dengan nuansa dan cita rasa khas Pulau Dewata.

Menurut pemilik restoran, Jacky Wiliawan, ide mendirikan restoran 'Serasa di Bali' ini lahir dari kecintaannya terhadap kuliner seafood Bali. Di mana kuliner Bali menghadirkan cita rasa yang unik dan khas. 

“Konsepnya adalah bagaimana orang bisa makan seafood yang rasanya seperti di Bali, tapi cukup datang ke Kota Tangerang saja,” katanya seperti dikutip dari website resmi Pemkot Tangerang.

Berbeda dari restoran seafood pada umumnya, Serasa di Bali menghadirkan berbagai hidangan laut segar yang didominasi bahan-bahan live seafood. Mulai dari udang, kerang, cumi, kepiting, hingga lobster tersedia dalam kondisi segar untuk menjaga kualitas rasa.

Tidak hanya itu, restoran ini juga menghadirkan beberapa jenis ikan seperti ikan kue dan ikan kakap putih, serta ikan khas dari Sulawesi seperti ikan kaneke. Semua bahan dipilih untuk menghadirkan karakter rasa yang mendekati hidangan laut khas Bali.

Salah satu daya tarik utama Serasa di Bali adalah konsep live seafood yang menjadi andalan. Pelanggan dapat memilih langsung bahan makanan laut yang masih segar, sehingga kualitas dan kesegaran menjadi prioritas utama.

Menariknya, harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, mulai dari kisaran puluhan ribu rupiah. “Semua seafood kita fresh dan hidup. Bahkan mulai dari 20 ribuan sudah bisa makan kerang yang benar-benar fresh,” jelas Jacky.

Berlokasi di kawasan strategis Pasar Lama Tangerang, Jalan Kisamaun No. 179–181, restoran ini buka setiap hari dari pukul 11.30 siang hingga 22.00 malam, menjadikannya pilihan kuliner yang cocok untuk makan siang hingga makan malam bersama keluarga maupun teman. (*)

14 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Energi Mahal, Kargo Udara Tertekan tapi Kargo Laut Makin Dibutuhkn

Konflik geopolitik membuat industri kargo udara makin berbiaya mahal. Sebab, harga kebutuhan energi semakin tinggi. Untuk mengatasi masalah tersebut, para pengusaha dunia melirik kargo laut sebagai alternatif pengganti.

Menurut Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, tekanan pada industri kargo udara global dipicu kenaikan harga komoditas energi sebagai dampak eskalasi geopolitik.

“Kenaikan harga avtur global secara historis berada pada kisaran USD 75–87 per barel, namun saat ini mencapai USD 175–200 per barel. Hal ini menyebabkan permintaan kargo udara global turun sekitar 22 persen, dengan rute Asia–Eropa tertekan hingga 39 persen,” ujar Yukki dalam keterangan, (14/4/2026).

Dia menambahkan, dinamika global tersebut berdampak langsung pada sektor logistik nasional. Struktur logistik Indonesia yang masih didominasi transportasi darat hingga sekitar 90 persen membuat sistem distribusi domestik rentan terhadap tekanan eksternal.

Ketika biaya kargo udara meningkat, sebagian arus barang berpotensi bergeser ke moda darat dan laut. Kondisi ini dapat meningkatkan beban infrastruktur yang telah menghadapi tantangan kapasitas dan efisiensi.

“Pergeseran arus kargo udara ini menjadi peluang bagi pelaku usaha logistik laut dan darat dalam menjaga kelancaran distribusi. Namun, peluang ini hanya optimal jika diiringi peningkatan efisiensi operasional dan penguatan konektivitas pelabuhan dengan wilayah hinterland,” kata Yukki.

Tekanan pada kargo udara mempertegas urgensi pengembangan sistem logistik multimoda di Indonesia. Integrasi transportasi darat, laut, kereta api, dan udara menjadi kebutuhan mendasar untuk menciptakan sistem logistik yang adaptif dan tangguh.
Pemanfaatan kereta api logistik, khususnya di koridor Jawa, dinilai masih memiliki ruang besar untuk dioptimalkan sebagai alternatif distribusi yang lebih efisien bagi jenis barang tertentu.

“Perubahan ini juga mendorong pergeseran perilaku pelaku usaha. Pengirim barang menjadi lebih sensitif terhadap biaya dan cenderung memperpanjang perencanaan rantai pasok, termasuk meningkatkan buffer stock. Sementara itu, perusahaan logistik dituntut bertransformasi dari sekadar penyedia jasa menjadi mitra strategis yang menawarkan solusi terintegrasi,” pungkasnya. (*)

13 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Mengungkap Misteri Mahluk Misterius di Palung Perairan Jepang

Tim peneliti internasional melakukan penelitian ke dua palung terdalam di Perairan  Jepang, Palung Ryukyu sedalam 7.900 meter dan Palung Izu-Ogasawara sedalam 9.800 meter. Ekspedisi yang dilakukan selama dua bulan itu berhasil menemukan sekitar 108 kelompok organisme berbeda serta satu makhluk misterius yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Peneliti dari University of Western Australia dan Tokyo University of Marine Science and Technology melakukan ekspedisi besar dengan dukungan Caladan Oceanic dan Inkfish.

Mereka menggunakan kapal penelitian DSSV Pressure Drop serta kapal selam berawak Limiting Factor untuk menjelajah dasar laut.

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah makhluk aneh yang belum dapat diklasifikasikan secara ilmiah, yang sementara diberi label Animalia incerta sedis.

Makhluk ini terekam dua kali melayang di kedalaman sekitar 9.137 meter. Meski telah dibicarakan dengan ahli taksonomi global, belum ada yang mampu menentukan kelompok biologinya. Secara sekilas, bentuknya menyerupai siput laut atau teripang, namun identitas pastinya masih menjadi misteri.

Selain itu, peneliti juga menemukan populasi padat organisme laut dalam yang hidup di dasar laut. Di titik geologi langka bernama Boso Triple Junction pada kedalaman sekitar 9.737 meter, mereka melihat padang krinoid, hamparan hewan laut yang menyerupai bunga lili laut.

Di Palung Izu–Ogasawara, tim juga menemukan spons karnivora dari keluarga Cladorhizidae di kedalaman lebih dari 9.500 meter, rekor terdalam untuk pengamatan langsung spesies tersebut.

Sementara itu, kamera berhasil merekam ikan siput (snailfish) dari genus Pseudoliparis yang sedang makan di kedalaman 8.336 meter, menjadi rekor baru pengamatan ikan terdalam di habitat alaminya.

Perangkat lander juga mengungkap keberadaan Alicella gigantea, krustasea raksasa yang tampaknya hidup di seluruh palung yang diteliti. Meski terlihat seperti wilayah yang belum tersentuh, peneliti menemukan jejak sampah buatan manusia di dasar laut, kemungkinan terbawa arus dari wilayah yang lebih tinggi. (*)

12 Apr 2026

Penulis : Folber Siallagan

Musim Kemarau Ancam Darat, tapi Berkah bagi Nelayan

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika memperkirakan musik kemarau akan terjadi mulai April hingga September 2026. Musik kemarau kali ini akan lebih kering dari tahun sebelumnya karena didorong oleh fenomena ek nino. Namun demikian, musik kemarau yang ada di depan mata ini justru menjadi berkah bagi nelayan dan dunia perikanan tanah air. Kok bisa? Simak penjelasannya.

Menurut penjelasan dari peneliti Oseanografi pada Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Pranowo, awal kemarau memicu pergerakan Angin Timuran yang kuat.

Angin ini mendorong massa air permukaan laut ke arah lepas pantai, yang kemudian digantikan oleh massa air dingin kaya nutrien dari lapisan yang lebih dalam atau biasa disebut upwelling.

"Massa air yang terangkat ini membawa 'pupuk alami' berupa nitrat dan fosfat. Ketika mencapai permukaan yang kaya sinar matahari, terjadi fotosintesis masif oleh fitoplankton. Inilah yang mendasari peningkatan produktivitas primer laut kita," katanya, Sabtu (16/3).

Menurutnya, fitoplankton akan mulai berkembang pada April-Mei 2026, mulai melonjak pada Juni 2026, dan puncaknya di Juli-Agustus 2026. Prediksi ini akan menarik keberlimpahan ikan pelagis kecil seperti lemuru di Selat Bali.

"Dinamika laut ini sangat dipengaruhi oleh variabilitas iklim. Jika El Niño 2026 terjadi, potensi penguatan upwelling tidak hanya di selatan Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah perairan Indonesia lainnya," kata Widodo.

Fenomena upwelling di selatan Jawa ini memiliki karakteristik unik yang dikenal secara internasional dengan sebutan RATU (Semi-permanent Java Coastal Upwelling).

Hasil analisis data menunjukkan bahwa keberadaan lapisan thermocline yang terangkat ke atas selama proses upwelling menjadi indikator utama dalam memetakan daerah penangkapan ikan.
Riset ini berhasil mengidentifikasi bahwa wilayah Selatan Jawa hingga Nusa Tenggara merupakan habitat krusial bagi migrasi dan pemijahan ikan ekonomis penting, termasuk Tuna Sirip Biru Selatan (Southern Bluefin Tuna), Cakalang, dan Tuna Mata Besar.

Selain itu, riset tersebut juga mencatat sinergi antara Angin Timuran dan fenomena El Niño dapat memperkuat intensitas upwelling, yang secara langsung berdampak pada pelonjakan stok ikan pelagis. (*)